Mulai tahun 2025, wajah pendidikan Indonesia resmi berubah dengan digantinya Ujian Sekolah menjadi Tes Kemampuan Akademik (TKA). TKA hadir sebagai standar penilaian baru yang berfokus pada kemampuan literasi membaca, numerasi (matematika), dan literasi sains. Perubahan ini didasari oleh keinginan pemerintah agar siswa tidak lagi memiliki kesan traumatik terhadap kata “ujian” yang selama ini dianggap menakutkan. Namun, transisi ini justru mengungkap fakta baru mengenai potret kualitas pendidikan indonesia. Data terbaru menunjukkan fenomena turunnya nilai TKA yang cukup drastis pada tahun ajaran ini, memicu kekhawatiran tentang kesiapan akademik siswa secara nasional.
Berdasarkan data resmi dari laman tka.kemendikdasmen.go.id, angka capaian nasional memang menunjukkan penurunan. Untuk jenjang SMA, rata-rata nilai Matematika hanya mencapai 42,5, Bahasa Indonesia 53,2, dan Bahasa Inggris 48,7. Kondisi yang lebih menantang terlihat pada jenjang SMK, di mana nilai rata-rata Matematika berada di angka 38,4, Bahasa Indonesia 49,1, dan Bahasa Inggris 41,2. Angka-angka ini menjadi bukti nyata bahwa penguasaan konsep dasar siswa masih perlu dievaluasi secara mendalam.
Tujuan Tes Kemampuan Akademik (TKA)
Penyelenggaraan TKA bukan sekadar formalitas pengganti ujian lama. Berdasarkan informasi dari Kemendikdasmen, tujuan utama dari tes ini adalah:
Mendapatkan Informasi Hasil Akademik Siswa yang Terstandar untuk Keperluan Seleksi Akademik.
Selama ini sebelum adanya TKA, sekolah di Indonesia menerapkan Ujian Sekolah sebagai penentu kelulusan dan takaran dari pemahaman siswa terhadap pembelajaran. Soal dalam ujian tersebut setiap sekolah memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Hal ini menjadi bentuk yang tidak dianggap standar bagi seluruh sekolah.
Menjamin Pemenuhan Akses Siswa Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Terhadap Penyetaraan Hasil Belajar.
Artinya, TKA hadir sebagai jembatan penyetaraan. Dengan tes ini, siswa yang menempuh pendidikan di luar sekolah formal tetap memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengakuan resmi atas hasil belajar yang telah mereka raih.
Mendorong Peningkatan Kapasitas Pendidik dalam Mengembangkan Penilaian yang Berkualitas.
Hasil TKA dapat menjadi bentuk evaluasi terhadap pendidik agar mempersiapkan metode pembelajaran yang maksimal dan lebih efektif.
Memberikan Informasi Kepada Siswa Tentang Kekuatan dan Kelemahan Dalam Bidang Akademik
TKA bermanfaat bagi siswa untuk menentukan kekuatan dan kelemahan mereka dalam bidang akademik. Nantinya mereka bisa mengetahui apa yang perlu ditingkatkan dan apa yang perlu dipertahankan.
Faktor Penyebab dan Solusi Penurunan Hasil TKA
Isu turunnya nilai TKA ini memancing pendapat dari berbagai akademisi, salah satunya dari pakar sosiologi pendidikan UNAIR, Prof. Dr. Tuti Budirahayu, Dra., M.Si. Dikutip dari laman Unair.ac.id menurut Prof. Tuti, penurunan ini dipicu oleh perubahan pola pikir siswa. Dahulu, siswa merasa bahwa tanpa nilai UN yang bagus, nasib mereka akan sulit ke depannya, sehingga mereka belajar dengan sangat giat. Ketika UN diganti TKA yang dikemas tidak bersifat wajib, kemungkinan dorongan untuk memaksimalkan hasil tes tersebut terhapus dari pemikiran siswa.
Selain faktor psikologis, Prof. Tuti menyoroti pengaruh zaman digital. Media sosial saat ini dipenuhi konten instan yang menampilkan kesuksesan cepat tanpa proses panjang. Durasi tayangan konten yang singkat ternyata melemahkan daya kritis serta ketekunan siswa dalam membaca dan menganalisis informasi secara mendalam.
Realitanya, anak-anak hingga dewasa menghabiskan hampir 24 jam berselancar di media sosial yang informatif namun sering kali tidak valid. Paparan konten instan yang terus-menerus merangsang otak untuk menyukai hal-hal cepat tanpa perlu berpikir kritis. Hal inilah yang membuat mereka kesulitan saat dihadapkan pada soal TKA yang membutuhkan analisis tajam dan pemahaman konsep yang kuat.
Turunnya nilai TKA membuktikan bahwa metode pembelajaran di sekolah-sekolah Indonesia masih perlu diperbaiki. Jika dibiarkan, kualitas siswa untuk menembus perguruan tinggi akan semakin menurun. Sebagai solusi konkret, Prof. Tuti menyarankan agar metode pembelajaran di sekolah diubah menjadi lebih interaktif dan berorientasi pada pemahaman konsep, bukan sekadar menghafal materi. Sekolah juga perlu memperkuat literasi digital agar siswa mampu membedakan informasi valid di tengah gempuran media sosial.
Sakola Kembara: Beraksi di Tengah Ketimpangan Pendidikan
Turunnya nilai TKA pada jenjang SMA dan SMK membuktikan bahwa belum meratanya kualitas pendidikan di sekolah-sekolah Indonesia. Terlebih kualitas pendidikan rendah juga dialami oleh banyak sekolah di pelosok negeri yang sulit dalam mengakses informasi dan teknologi. Sekolah di pelosok cenderung memiliki kualitas di bawah sekolah perkotaan. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kurangnya tenaga pendidik, kurangnya fasilitas dalam pembelajaran, hingga kurang memadainya bangunan infrastruktur sekolah.
Ketidakmerataan tersebut dapat ditanggulangi dengan upaya memberikan pendidikan yang layak bagi seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali. Upaya ini sudah berhasil dilakukan oleh Sakola Kembara, bimbel gratis masuk perguruan tinggi bagi anak pelosok. Yayasan ini percaya, rendahnya skor TKA bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena kurangnya akses dan pendampingan yang tepat. Oleh karena itu, dengan semangat #PendidikanUntukSemua mereka membantu anak-anak di pelosok dengan memberikan pembelajaran setara seperti sekolah di perkotaan agar dapat bersaing mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi.
Bagi Sobat Kembara yang ingin ikut menjadi bagian dari solusi. Mari bantu adik-adik di pelosok mendapatkan kesetaraan pendidikan melalui Volunteer Sakola Kembara.
Bersama Sakola Kembara, kita ubah tantangan menjadi kesempatan bagi mereka yang membutuhkan!
