Peran Seorang Mentor dalam Mendampingi Perjalanan Belajar Siswa

Pendidikan Tidak Selalu Datang dengan Akses yang Sama

Sahabat Kembara, banyak orang percaya pendidikan adalah hak semua orang. Namun kenyataannya, akses terhadap pendidikan tidak selalu terbuka bagi setiap anak. Faktor ekonomi, lingkungan, hingga pandangan keluarga sering menjadi batas yang tidak terlihat, tetapi memiliki dampak yang nyata.

Foto Caca
(Mentor Sakola Kembara)

Kesadaran ini yang dirasakan oleh Caca, seorang mahasiswi 20 tahun yang kini berperan sebagai mentor di Sakola Kembara. Ia menyadari bahwa dirinya termasuk beruntung karena masih memiliki kesempatan belajar dengan cukup baik. Dari situ tumbuh keinginan untuk membantu mereka yang tidak memiliki privilege yang sama.

Ingin Melihat Orang Lain Mencapai Impiannya

Bagi Caca, menjadi seorang mentor bukan sekadar kegiatan mengajar materi UTBK. Ia sudah beberapa kali mendampingi siswa yang berjuang masuk perguruan tinggi, dari pengalaman itu ia menemukan kepuasan tersendiri saat melihat siswa yang dibimbingnya berkembang.

“Membantu seseorang mencapai mimpinya itu ngasih rasa bahagia yang beda,” ujar Caca, menggambarkan alasan ia terus terlibat dalam mentoring.

Motivasinya sederhana, yaitu senang melihat seseorang berhasil mencapai tujuan yang sebelumnya terasa sulit. Dalam proses itu, peran mentor menjadi pendamping yang membantu siswa tetap percaya pada kemampuannya sendiri.

Baca Juga: Mengajar sebagai Investasi Kebaikan: Perjalanan Muhammad Ilham Bersama Sakola Kembara – Sakola Kembara – Yayasan Sakola Kembara Indonesia

Diskusi Terbuka Membuat Proses Belajar Lebih Hidup

Salah satu pengalaman paling berkesan selama mentoring adalah ketika siswa aktif bertanya dan terbuka dalam diskusi. Situasi ini menunjukkan adanya rasa percaya antara mentor dan mentee (sebutan orang yang didampingi oleh mentor).

Belajar tidak lagi berlangsung satu arah. Mentor dan siswa sama-sama terlibat dalam proses memahami materi, berbagi sudut pandang dan mencari solusi bersama. Inilah nilai penting dari mentoring yang sering tidak terlihat dari luar.

Tantangan sebagai Mentor 

Tantangan terbesar yang dirasakan Caca adalah menyesuaikan jadwal mentoring dengan aktivitas pribadinya. Jadwal pertemuan daring kadang berbenturan, sehingga perlu kesepakatan ulang dengan mentee. Namun, justru dari situ komitmen terlihat. Mentoring bukan hanya tentang hadir di sesi belajar, tetapi juga memantau perkembangan siswa dan menjaga komunikasi agar proses belajar tetap berjalan dengan baik.

Dampak Mentoring yang Dirasakan secara Pribadi

Setelah terlibat sebagai mentor di Sakola Kembara, Caca merasa dirinya menjadi lebih peduli terhadap kondisi akademik dan lingkungan para siswa. Ia tidak lagi melihat mentoring sebagai tugas formal, melainkan sebagai proses yang membangun hubungan dan kepedulian.

Menurutnya, program Sakola Kembara sangat membantu siswa, terutama yang berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Walau dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung, upaya ini berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara bertahap.

Harapan untuk Sakola Kembara

Caca berharap Sakola Kembara dapat hadir di lebih banyak kota di luar Provinsi Jawa Barat. Ia juga berpesan agar kegiatan belajar dan mentoring tidak dijadikan beban. Baik dari siswa maupun mentor, semuanya sedang sama-sama belajar dan berkembang, sehingga prosesnya perlu dijalani dengan nyaman dan saling mendukung.

Sahabat Kembara, kisah ini menunjukkan bahwa peran mentor bukan tentang si paling tahu, tetapi tentang keinginan untuk turut hadir, mendengar dan peduli pada proses belajar orang lain. Jika ingin terus mengikuti cerita para mentor, siswa, dan perjalanan pendidikan menarik lainnya, yuk tumbuh bersama Sakola Kembara dengan mengikuti Instagram Sakola Kembara