Sahabat Kembara, banyak dari kita menilai bahwa pendidikan sering dianggap hanya seputar nilai, peringkat dan almamater. Padahal bagi banyak anak muda di daerah, pendidikan adalah soal bertahan dan berharap.
Mari Mengenal Cindy Lebih Dekat

Cindy seorang siswi dari Desa Langensari Cabang Cibodas yang berasal dari keluarga yang tergolong sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pedagang pemasok barang ke warung-warung, sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga dan ia memiliki dua saudara. Dengan kondisi ekonomi yang cukup, hidup sederhana adalah keseharian yang dijalaninya tanpa banyak keluhan.
Dalam pendidikan, Cindy menempuh SMP dan SMA melalui jalur zonasi. Ia tidak bersekolah di sekolah favorite, bukan karena kurang usaha, tetapi karena keterbatasan sistem dan akses. Sekolah SMA yang ia pilih bahkan tergolong baru, dengan fasilitas laboratorium yang belum memadai, bahkan praktek sains sering kali tidak terlaksana dan hanya berfokus di teori. Namun keterbatasan itu tidak menghentikan keinginannya untuk terus belajar.
Mimpi Besar yang Terasa Jauh
Sejak SMA, Cindy sudah memiliki mimpi yang tidak kecil. Ia ingin menempuh pendidikan keperawatan internasional dan bekerja sebagai tenaga kesehatan di luar negeri. Masalahnya sederhana tapi nyata: kemampuan bahasa Inggris yang belum memadai dan rasa tidak percaya diri.
Alih-alih memaksakan diri, Cindy memilih jalur yang realistis. Ia tetap mengambil jurusan keperawatan sebagai fondasi awal, dengan harapan suatu hari bisa melanjutkan ke jenjang S2 keperawatan internasional. Pilihan ini bukan tanda menyerah, tetapi strategi bertahan.
Sakola Kembara dan Arti Kedermawanan Bagi Cindy
Cindy pertama kali mengenal Sakola Kembara melalui sosialisasi di sekolah. Dari sana, ia mulai mengikuti pembelajaran persiapan UTBK yang lebih terstruktur, mulai dari pemahaman dasar hingga asesmen. Ia tidak hanya belajar materi, tetapi juga belajar secara keseluruhannya yang tidak ia dapatkan sebelumnya.
Di Sakola Kembara, Cindy mendapatkan mentor, pengurus, dan lingkungan yang jauh lebih suportif. Ketika semangatnya turun, selalu ada yang mengingatkan alasan ia memulai. Menurutnya, di sinilah kedermawanan hadir sebagai ruang aman, bukan sekadar bantuan melalui materi.
Pengalaman yang Menguatkan Mental
Salah satu momen paling berkesan bagi Cindy adalah sesi coaching hasil kolaborasi Sakola Kembara dengan Coachnesia. Untuk pertama kalinya, ia merasa didengar tanpa dihakimi. Ia belajar melihat dirinya dari sudut pandang baru, memahami tujuan, dan menguatkan mentalnya.
Kegiatan Eduventure, kebersamaan dengan teman-teman di sana, hingga momen sederhana seperti makan pop mie bersama setelah bermain air di curug, semuanya membentuk rasa saling memiliki dan punya keterikatan yang kuat, sehingga dari pendidikan juga bisa mendapatkan relasi dan rasa aman.
Perubahan Nyata Setelah Mengikuti Sakola Kembara
Setelah bergabung dengan Sakola Kembara, perubahan terbesar yang Cindy rasakan adalah kemampuannya dalam mengatur waktu belajar. Ia menjadi lebih disiplin, lebih terarah, lebih percaya dan menikmati sebuah proses.
Bagi Cindy, pendidikan adalah hal yang sangat penting karena mampu mengubah hidup. Nyatanya, perubahan itu tidak datang sendirian. Ia lahir dari dukungan, kepercayaan, dan kedermawanan orang-orang yang mungkin tidak pernah ia sangka bertemu secara langsung.
Pesan Cindy Untuk Para Donatur
Bantuan dari para donatur bukan hanya soal fasilitas belajar. Bantuan itu adalah bentuk kepedulian yang membuatnya bisa fokus, bertahan, dan terus berkembang meski dalam keterbatasan. Kedermawanan menjadi energi yang menjaga mimpinya tetap hidup.
Kisah Cindy menunjukkan bahwa kedermawanan tidak selalu menciptakan keajaiban secara instan. Terkadang, ia hanya memberi ruang bagi seseorang untuk tidak menyerah hari ini.
Jika Sahabat Kembara ingin terus mengikuti kisah-kisah perjuangan, harapan, dan dampak nyata dari kebaikan yang berkelanjutan, yuk dukung dan ikuti perjalanan dan aktivitas seru lainnya, kamu bisa mampir dan mengikuti Instagram Sakola Kembara pada link berikut! (https://www.instagram.com/sakolakembara/).