
Realita Pendidikan di Kabupaten Berau
Nur Ainah (23) adalah contoh nyata bahwa anak daerah 3T mampu bersaing di tingkat nasional ketika mendapatkan akses dan pendampingan yang tepat. Tumbuh di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. ia merasakan langsung keterbatasan pendidikan di wilayah yang jauh dari pusat sumber daya. Sejak kecil, ia melihat banyak teman sebaya yang cerdas, tetapi tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena kendala jarak, ekonomi, fasilitas, dan minimnya informasi tentang jalur masuk kampus.
Data Akses Pendidikan Tinggi yang Masih Rendah
Data BPS Berau tahun 2024 menunjukkan fakta yang cukup berat. Hanya sekitar 5,68% penduduk yang menempuh pendidikan tinggi. Sebanyak 32% belum pernah sekolah. Sekitar 30% hanya lulus SD. Rata rata lama sekolah 9,56 tahun. Artinya banyak yang berhenti di jenjang SMP. Padahal Kalimantan Timur dikenal sebagai provinsi berkembang. Namun, ketimpangan antarwilayah masih besar. Kota dan daerah terpencil punya jarak yang nyata.
Ketimpangan Wilayah di Balik Narasi Pembangunan
Berangkat dari pengalaman dan data tersebut, Nur Ainah meyakini bahwa persoalan utama bukan terletak pada kemampuan anak daerah, melainkan pada kesempatan dan pendampingan yang belum merata. Ia sendiri berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ternama dan memperoleh beasiswa penuh selama S1 berkat prestasi akademik.
Selama kuliah, ia aktif dalam kompetisi, penelitian, dan berbagai kegiatan ilmiah hingga meraih lebih dari 80 prestasi. Pengalaman ini membuktikan bahwa ketika akses terbuka, potensi anak desa mampu berkembang dan bersaing secara nasional.
Kesadaran inilah yang mendorongnya bergabung sebagai mentor di Sakola Kembara. Baginya, menjadi mentor bukan sekadar mengajar materi, tetapi mendampingi siswa secara utuh. Ia ingin menjadi sistem pendukung bagi adik-adik yang memiliki latar belakang serupa dengannya. Ia membagikan pengalaman, strategi belajar, serta menanamkan keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Perjalanan Akademik dan Prestasi Nur Ainah
Motivasi tersebut juga dipengaruhi oleh nilai yang ditanamkan keluarganya sejak kecil. Meski orang tuanya tidak menempuh pendidikan tinggi dan hidup dalam keterbatasan, pendidikan selalu menjadi prioritas. Dari situlah ia belajar bahwa dukungan dan kepercayaan sangat menentukan keberlanjutan pendidikan seseorang. Sebagai lulusan S1 Pendidikan Fisika yang bercita-cita melanjutkan studi hingga jenjang doktoral dan menjadi dosen, ia melihat mentoring sebagai bentuk pengabdian nyata di dunia pendidikan.
Selama mendampingi mentee, ia menyaksikan perubahan yang bermakna, terutama dalam kepercayaan diri siswa. Banyak yang awalnya ragu memilih jurusan dan universitas, lalu perlahan menjadi lebih yakin setelah mendapatkan penguatan mental dan arahan belajar. Ia juga belajar untuk lebih sabar, peka, dan berhati-hati dalam berkomunikasi karena setiap mentee memiliki latar belakang dan beban yang berbeda.
Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah manajemen waktu, karena jadwal mentor dan mentee kerap bertabrakan. Namun, komunikasi yang baik dan dukungan tim Sakola Kembara membantu proses pendampingan tetap berjalan. Ia menilai program ini relevan karena tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga penguatan mental, perencanaan masa depan, serta kesiapan emosional siswa.
Pendidikan sebagai Hak, Bukan Privilege
Menurutnya, dampak Sakola Kembara tidak hanya terasa pada individu, tetapi juga berpotensi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah. Program ini membuka akses informasi dan membangun pola pikir positif tentang pentingnya pendidikan tinggi. Ia berharap Sakola Kembara dapat menjangkau lebih banyak siswa Indonesia, khususnya dari wilayah dengan akses terbatas, serta terus meningkatkan kualitas mentoring dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Bagi siswa dari daerah, pesan Nur Ainah sederhana namun kuat: jangan pernah merasa latar belakang menentukan masa depan. Selama mau berusaha, mencari peluang, dan percaya pada diri sendiri, selalu ada jalan untuk berkembang. Pendidikan adalah hak semua orang, dan setiap anak desa berhak bermimpi besar serta memiliki kesempatan yang sama untuk meraihnya