Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kampus Universitas Indonesia, seorang mahasiswa Teknik Industri bernama Zul KarZul memilih jalan yang berbeda. Alih-alih hanya fokus pada nilai akademis dan persiapan karir pribadi, pemuda 18 tahun ini memutuskan untuk terjun langsung dalam pengabdian untuk pendidikan, ia menjadi mentor bagi anak-anak di daerah yang bermimpi menembus gerbang perguruan tinggi negeri.
Kesadaran yang Menggerakkan
Bagi Zul, pendidikan tinggi bukanlah sebuah privilese, melainkan hak yang seharusnya dimiliki setiap anak Indonesia. Kesadaran ini lahir dari pengalamannya sendiri sebagai mahasiswa UI.
“Menikmati pendidikan berkualitas di UI menyadarkan saya bahwa banyak potensi luar biasa di daerah yang terhambat hanya karena kurangnya informasi dan bimbingan yang tepat,” ungkapnya.
Dengan kacamata seorang mahasiswa Teknik Industri yang terbiasa menganalisis sistem, Zul melihat ketimpangan akses pendidikan sebagai sebuah “sistem yang rusak” yang harus diperbaiki bersama. Pandangan sistematis ini yang kemudian mendorongnya untuk tidak sekadar berwacana, tetapi turun langsung memberikan solusi nyata.
Lebih dari Sekadar Mengajar
Pengabdian untuk pendidikan yang dilakukan Zul jauh melampaui sekadar transfer ilmu pengetahuan. Ia hadir sebagai pembuka jalan, memastikan adik-adiknya di daerah percaya bahwa keterbatasan ekonomi dan geografis bukanlah penghalang untuk bermimpi besar.
Tantangan terbesarnya bukan pada materi pelajaran, melainkan membangun mental dan kepercayaan diri siswa. “Seringkali, rasa minder karena latar belakang ekonomi membuat mereka merasa ‘kalah sebelum bertanding’,” jelasnya. Di sinilah peran seorang mentor sejati dibutuhkan, bukan hanya mengajar dengan kepala, tetapi juga dengan hati.
Zul menjalankan berbagai tupoksi dalam pengabdiannya, mentoring karir untuk pemilihan jurusan, pendampingan motivasi, hingga monitoring dan evaluasi perkembangan belajar siswa secara rutin.
Momen Bercermin yang Bermakna
Hal yang paling berkesan dalam perjalanan pengabdian untuk pendidikan ini adalah apa yang Zul sebut sebagai momen “bercermin”. Ketika melihat semangat dan kecemasan siswa dalam mengejar mimpi masuk PTN, ia teringat perjuangannya sendiri dulu penuh harapan akan masa depan, namun juga takut akan kegagalan.
“Bisa hadir mendampingi mereka melewati fase krusial ini, menjadi sosok pendukung yang mengerti persis apa yang mereka rasakan, adalah kepuasan batin yang tidak ternilai,” ujarnya dengan penuh makna.
Transformasi Diri Melalui Pengabdian
Pengabdian untuk pendidikan ternyata tidak hanya mengubah hidup siswa yang dibimbingnya, tetapi juga mentransformasi Zul sendiri. Ia mengalami beberapa perubahan fundamental dalam hidupnya:
- Pergeseran Definisi Masalah: Jika di kuliah ia belajar optimasi sistem industri, dalam mentoring ia belajar “optimasi harapan”. Masalah teknis di kampus tidak lagi terasa berat dibanding perjuangan siswa yang melawan keterbatasan ekonomi demi bisa belajar.
- Peningkatan Empati dan Komunikasi: Mengajar siswa dengan latar belakang beragam memaksanya untuk tidak hanya bicara dengan logika, tetapi juga dengan hati agar pesan dapat diterima dan membangkitkan semangat.
- Realisasi Peran Sosial: Zul tidak lagi memandang gelarnya hanya untuk mencari kerja, tetapi sebagai alat untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
- Ketangguhan Mental: Melihat daya juang para siswa di daerah memberikan energi tambahan. “Mereka adalah guru bagi saya dalam hal kegigihan dan semangat pantang menyerah,” akunya dengan rendah hati.
Sakola Kembara Merupakan Wadah Pengabdian untuk Pendidikan
Pengabdian untuk pendidikan yang dilakukan Zul adalah bagian dari gerakan yang lebih besar bernama Sakola Kembara. Program ini hadir dengan misi memutus rantai ketimpangan akses pendidikan di Indonesia melalui pendekatan yang sistematis dan inklusif.
Sakola Kembara bukan sekadar program bantuan sesaat. Dengan alur yang solid mulai dari Roadshow hingga Asrama Intensif, program ini menggunakan metode Teaching at the Right Level yang adaptif terhadap kecepatan belajar tiap siswa. Pelibatan warga lokal dan Local Heroes memastikan dampak yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek musiman.
Yang membuat Sakola Kembara istimewa adalah dampaknya yang menciptakan mobilitas vertikal dalam masyarakat. Satu anak yang berhasil masuk PTN tidak hanya mengubah nasib keluarganya, tetapi juga menjadi inspirasi dan memutus stigma bahwa pendidikan tinggi itu mahal atau sulit dicapai oleh anak desa.
Zul berharap Sakola Kembara dapat terus berkembang, di replikasi di lebih banyak daerah terpencil, membangun ekosistem alumni yang kuat, dan mengembangkan platform digital yang bisa diakses siswa di daerah dengan sinyal terbatas.
