
Di balik sosok yang cenderung tenang dan introvert, Azkiya Najwah menyimpan perjalanan yang penuh makna tentang mimpi, kegagalan, keberanian, dan keinginan untuk tetap memberi arti bagi orang lain.
Di usianya yang ke-19 tahun, Azkiya kini menjalani peran sebagai mahasiswa Administrasi Bisnis angkatan 2025 di International Women University. Namun, perjalanan yang membawanya ke titik ini tidaklah sederhana.
Tumbuh dalam Keterbatasan, Tetap Memilih Melangkah
Azkiya lahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil. Dalam situasi tersebut, banyak pilihan hidup yang terasa terbatas. Namun, ia memilih untuk tidak mengubur mimpinya.
Meski dikenal sebagai pribadi yang introvert, lebih banyak mengamati sebelum berbicara, Azkiya memiliki cara berpikir yang dalam. Ia tidak menjalani sesuatu secara setengah hati. Ketika sudah terlibat, ia memilih untuk bertanggung jawab penuh.
Sehari-harinya diisi dengan aktivitas sederhana namun penuh makna, dari belajar, mengerjakan tugas kuliah, membantu ayahnya di kebun, serta terus berusaha memperbaiki diri dari hari ke hari. Bagi Azkiya, bertumbuh tidak harus terlihat cepat. Yang penting, tetap berjalan.
Mimpi yang Sempat Hilang, Lalu Ditemukan Kembali
Perjalanan Azkiya menuju dunia pendidikan tinggi sempat terhenti. Latar belakang sebagai siswa SMK membuatnya diarahkan untuk langsung bekerja. Mimpi untuk masuk perguruan tinggi negeri pun perlahan memudar. Namun, semuanya berubah ketika ia mengenal Sakola Kembara melalui temannya.
Awalnya, ia bahkan tidak memiliki keinginan untuk ikut bimbingan belajar. Tetapi satu hal yang menggerakkannya, yaitu kesempatan. Di tengah keraguan dan keterbatasan, ia memilih untuk tidak menyia-nyiakan peluang yang ada. Dari situlah, perjalanan barunya dimulai, perjalanan untuk dapat kembali mengejar mimpi yang sempat ia tinggalkan.
Dari Peserta Menjadi Penggerak
Perjalanan Azkiya di Sakola Kembara tidak selalu mulus. Ia pernah berada di fase sulit, baik kesulitan membagi waktu, tekanan akademik, hingga akhirnya tidak lolos UTBK. Kegagalan tersebut sempat membuatnya kehilangan arah. Bahkan, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ayahnya tidak mengizinkan untuk melanjutkan kuliah.
Namun, di titik terendah itulah ia menemukan jalan lain. Melalui kesempatan beasiswa di kampus swasta, Azkiya berhasil melanjutkan pendidikan, dan di saat yang sama, ia dihadapkan pada pilihan lain, yaitu menjadi relawan mulia di Sakola Kembara.
Dengan segala keraguan, termasuk rasa minder karena tidak berasal dari PTN, ia tetap memilih untuk bergabung. Keputusan itu bukan tentang status, tetapi tentang makna.
Berkontribusi Bukan Soal Besar atau Kecil
Sebagai bagian dari tim kesiswaan Sakola Kembara Cibodas, Azkiya menjalankan peran yang dekat dengan siswa secara langsung. Ia tidak hanya mencatat kehadiran atau memantau perkembangan akademik, tetapi juga hadir sebagai sosok yang mendengarkan, memahami, dan mendampingi.
Ia belajar membaca karakter, memahami kebutuhan, hingga membantu siswa menemukan potensi mereka. Bagi Azkiya, kontribusi bukan soal seberapa besar peran yang diambil, tetapi tentang kesungguhan untuk hadir dan memberi dampak sekecil apa pun itu.
Bertahan di Tengah Rasa Tidak Percaya Diri
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Azkiya bukan berasal dari luar, tetapi dari dalam dirinya sendiri. Ia pernah merasa tidak cukup layak. Tidak percaya diri. Bahkan mempertanyakan posisinya sebagai seseorang yang tidak berhasil masuk PTN, namun harus membantu orang lain mencapai hal tersebut.
Namun, di tengah keraguan itu, ia menemukan sesuatu yang lebih kuat baik penerimaan dan kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya memberikan kekuatan yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata.
Timnya tidak melihat dari mana ia berasal, tetapi melihat komitmen dan usahanya. Dari situlah Azkiya belajar bahwa nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh hasil, tetapi oleh proses dan keberanian untuk tetap melangkah.
Momen yang Mengubah Cara Pandang
Salah satu pengalaman paling membekas bagi Azkiya adalah saat mengikuti program Eduventure. Selama dua minggu hidup bersama, belajar bersama, dan menjalani proses yang intens, ia menyadari satu hal penting: setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing.
Melihat anak-anak yang tetap berjuang di tengah keterbatasan membuatnya tersentuh. Da situlah ia menemukan kembali alasan mengapa ia memilih untuk tetap bertahan dan berkontribusi.
Bukan karena ia sudah berhasil, tetapi karena ia ingin memastikan orang lain tidak harus merasakan penyesalan yang sama.
Makna yang Tidak Bisa Dibayar
Bagi banyak orang, volunteer adalah pekerjaan tanpa bayaran. Melelahkan, tanpa imbalan materi. Namun bagi Azkiya, justru di situlah letak nilainya. Ia menemukan sesuatu yang tidak bisa dibeli, yaitu rasa memiliki, dan bermanfaat untuk orang banyak
Ia belajar bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang bisa didapatkan, tetapi juga tentang apa yang bisa diberikan. Setiap kehadiran, setiap waktu, setiap tenaga yang ia berikan, semuanya menjadi bagian dari proses bertumbuh yang membentuk dirinya hari ini.
Pendidikan yang Lebih dari Sekadar Nilai
Pengalaman sebagai volunteer mengubah cara pandangnya tentang pendidikan. Bagi Azkiya, pendidikan bukan lagi sekadar nilai, ranking, atau kampus tujuan. Pendidikan adalah tentang akses, kesempatan, dan keadilan.
Ia memahami bahwa tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Dan karena itu, setiap orang membutuhkan dukungan yang berbeda. Pendidikan, baginya, adalah alat untuk memberdayakan.
Bertumbuh, Satu Kata yang Mewakili Segalanya
Jika harus merangkum seluruh perjalanannya dalam satu kata, maka jawabannya adalah: bertumbuh. Karena di balik setiap kelelahan, keraguan, dan proses panjang, Azkiya menemukan versi dirinya yang lebih kuat, lebih sadar, dan lebih bermakna.
Pesan yang Sederhana, Tapi Dalam
Bagi siapa pun yang masih ragu untuk memulai, terutama dalam hal menjadi volunteer, pesan dari perjalanan Azkiya cukup sederhana, yaitu pengalaman, relasi, dan proses bertumbuh adalah hal yang tidak selalu datang dua kali.
Kadang, keputusan kecil yang tidak dibayar justru menjadi langkah terbesar yang mengubah hidup. Dan bagi anak-anak yang sedang berjuang meraih mimpi, satu hal yang pasti: kesempatan yang ada hari ini adalah sesuatu yang tidak boleh disia-siakan.
Mari Bersama Sakola Kembara Kita Bangun Pendidikan Yang lebih Baik
Sakola Kembara telah memiliki komitmen untuk memberikan bimbingan belajar gratis kepada anak-anak di Indonesia yang mempunyai keterbatasan dalam hal ekonomi, namun hal itu tentu memerlukan dukungan dari banyak pihak untuk bisa menjaga kelangsungan dan memberikan dampak yang lebih luas dari program ini.
Oleh karena itu Sakola Kembara mengajak teman-teman untuk dapat berpartisipasi dalam program mulia ini, dengan cara menjadi volunteer atau relawan Sakola Kembara dengan tautan berikut: Menjadi Relawan Mulia, atau teman-teman dapat memberikan sumbangsih seikhlasnya untuk kelancaran proses belajar-mengajar kita di Menjadi Donatur Mulia